Dosen Arsitektur ITN Malang Maju Calon Wali Kota

Ir Budi Fathony, MTA
KOTA MALANG - Ir. Budai Fathony, MTA, dosen arsitektur ITN Malang siap untuk berkompetisi dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Malang 2024 mendatang. Meski dia belum memiliki kendaraan partai, tetapi Budi tetap all out dalam menunjukkan keseriusannya maju dalam pilwali tahun ini. “Ini namanya ikhtiar untuk mengabdi dalam merawat Kota Malang sebagai kota kelahiran, kota tempat tinggal dan kota saya membangun keluarga,” kata pria kelahiran Kampung Kayutangan, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini.

Budi mengatakan, selama ini Kota Malang telah mengalami berbagai kemajuan. Setiap wali kota telah mampu menunjukkan prestasinya dalam merawat dan membangun kota ini. Oleh karena itu dia yang sejak kecil tinggal di Kota Malang juga ingin melanjutkan pembangunan yang telah dilakukan para wali kota terdahulu. “Saya ingin mengabdi kepada kota ini, sebagai bentuk wujud syukur dan terima kasih saya,” kata dosen yang juga penggagas Taman Rekreasi Kota (Tarekot) di belakang Balai Kota Malang tersebut.

Budi Fathony mendampingi tim juri dalam Penilaian Tahap II Penghargaan Pembangunan Daerah 2024 di Kampung Kayutangan Heritage.
Budi Fathony mendampingi tim juri dalam Penilaian Tahap II Penghargaan Pembangunan Daerah 2024 di Kampung Kayutangan Heritage.

Sebagai orang yang telah puluhan tahun tinggal di Kota Malang, Budi banyak mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi. Oleh karena itu dia ingin melanjutkan perubahan-perubahan yang positif dan menghindarkan dari perubahan yang negatif. Pria yang juga  sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang ini berharap  perubahan Kota Malang ke depan tidak meninggalkan sejarah. “Saya setuju sekali dengan perubahan, tetapi yang tidak meninggalkan nilai-nilai sejarah Kota Malang. Justru saya ingin perubahan itu yang menggali tradisi dan budaya unggul yang dimiliki Kota Malang,”  terang Penggagas Tingkat Kota Malang Bamboo Mewek Park Tunjungsekar.

Menurut dosen yang dikenal gaul oleh mahasiswanya ini, potensi Kota Malang sangat besar. Sehingga harus terus dimaksimalkan lagi. Agar potensi tersebut bisa membuat warga Kota Malang berdaya. Baik dari sisi ekonomi, budaya, pariwisata, pendidikan dan lainnya. ”Ayo kita bareng-bareng merawat kota ini dan membangun dengan tidak melupakan sejarah,” ujar salah satu tokoh yang ikut mengawal berdirinya Kampung Kayutangan Heritege ini.(*)

Next Post Previous Post